Tampilkan postingan dengan label Daerah Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah Wisata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Pesona Wisata Danau Ranau






 


Luas Danau Ranau sekitar 8×16 km dengan latar belakang Gunung Seminung (ketinggian ± 1.880 m dpl), dikelilingi oleh bukit dan lembah. Pada malam hari udara sejuk dan pada siang hari suhu berkisar 20° - 26° Celsius. Terletak pada posisi 4°5145 bujur selatan dan 103°5550 bujur timur.

Secara geografis, topografi danau ranau adalah perbukitan berlembah, sehingga menjadikan danau Ranau memiliki cuaca sejuk. Terdapat beberapa jenis ikan hidup di danau, antara lain mujair, kepor, kepiat, dan harongan.




Posted By; Zona Kito.blogspot


Pemandangan seputar Danau Ranau sungguh menakjubkan. Apaladi di tengah danau terdapat pulau bernama Pulau Marisa. Di sana juga terdapat sumber air panas. Sebagai tujuan wisata,  wilayah ini kaya potensi karena masih ada objek pendukung seperti air terjun hingga resort.


 Asal-Usul

Menurut cerita, danau ini tercipta dari gempa besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar. Sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung berapi itu kemudian menjadi sumber air utama yang mengisi cekungan itu. Lama-kelamaan lubang besar itu penuh dengan air.

Sekeliling danau ditumbuhi berbagai tumbuhan semak yang oleh warga setempat disebut ranau. Maka danau itu pun dinamakan Danau Ranau. Sisa gunung api itu kini menjadi Gunung Seminung yang berdiri kokoh di tepi danau berair jernih tersebut.

Dokumentasi; by Kismansya Yrf
 Pada sisi lain di kaki gunung Seminung terdapat sumber air panas dari dasar danau. Di sekitar danau ini juga dapat ditemui air terjun Subik. Tempat lain yang menarik untuk dikunjungi adalah Pulau Marisa.

Pulau Marisa sebenarnya daratan yang terpisah dari kaki Gunung Seminung karena genangan air danau. Di daratan yang luasnya tidak lebih dari satu hektar itu terdapat pohon-pohon kelapa, dan pengunjung bisa sekadar mampir untuk menikmati keindahan secuil daratan itu.


 Danau Ranau memang memiliki pesona. Bagaimana tidak? Bekas letusan gunung berapi tersebut seolah membentuk panggung alam nan elok. Gunung Seminung  menjulang 1.880 meter di atas permukaan laut menjadi latar belakang dengan nuansa magis. Tebing dan barisan perbukitan menjadi pagar pembatas panggung megah itu.

Hamparan sawah hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru seolah menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang. Butir-butir kopi yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih di sepanjang tepian.
Danau Ranau Yg Diabadiakan Oleh salah Seorang warga Belanda Tahun 1926
( gambar pernah Dimuat Di Blog Jhoni Lodeh.Blogspot)




 
Penduduk sekitar danau menurutkan banyak kisah yang menceritakan asal usul Danau Ranau. Meskipun secara teori ilmiah diyakini danau ini terjadi akibat gempa tektonik, seperti Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Maninjau di Sumbar, sebagian besar masyarakat sekitar masih percaya danau ini berasal dari pohon ara. Konon, di tengah daerah yang kini menjadi danau itu tumbuh pohon ara sangat besar berwarna hitam.
Ranau Tempo Doeloe By; Joni Lodeh_ jonaif@yahoo.com
Cerita Adat;
Konon masyarakat dari berbagai daerah seperti Ogan, Krui, Libahhaji, Muaradua, Komering, berkumpul di sekeliling pohon. Mereka mendapat kabar jika ingin mendapatkan air, harus menebang pohon ara tersebut. Masyarakat dari berbagai daerah itu berkumpul dengan membawa makanan seperti sagon, kerak nasi, dan makanan lainnya.

Persis saat akan menebang pohon, masyarakat kebingungan cara memotongnya. Ketika itulah muncul burung di puncak pohon mengatakan warga harus membuat alat berbentuk mirip kaki manusia. Mereka membuat alat menggunakan batu dengan gagang kayu. Akhirnya pohon ara pun tumbang.

Dari lubang bekas pohon ara itu keluar air dan akhirnya meluas hingga membentuk danau. Sementara pohon ara yang melintang kemudian membentuk Gunung Seminung. Karena marah, jin di Gunung Pesagi meludah hingga membuat air panas di dekat Danau Ranau. Sedangkan serpihan batu dan tanah akibat tumbangnya pohon ara menjadi bukit di sekeliling danau.
Foto; Salah Satu Peninggalan Sejarah Megalitikum
Yang Diyakini Sebagai makam Sipahit Lidah (dikeramatkan Oleh warga Sekitar)

 Masih di sisi Danau Ranau, tepatnya di Pekon Sukabanjar, berseberangan dengan Lombok, terdapat kuburan yang diyakini masyarakat sebagai makam Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Makam keduanya terletak di kebun warga Sukabanjar bernama Maimunah. Untuk menuju ke lokasi, selain naik perahu motor dari Lombok, bisa juga dengan berkendaraan.

Menurut juru kunci kuburan, H Haskia, di sini terdapat dua buah batu besar. Satu batu telungkup diyakini sebagai makam Si Pahit Lidah dan satu batu berdiri sebagai makam Si Mata Empat. Si Pahit Lidah disebut sebagai Serunting Sakti dari Kerajaan Majapahit. Karena dianggap nakal, Si Pahit Lidah yang bernama asli Raden Sukma Jati ini oleh raja diusir ke Sumatera. Akhirnya, dia menetap di Bengkulu, Pagaralam, dan Lampung.


Si Pahit Lidah memiliki kelebihan, yakni setiap apa yang dikemukakannya terkabul menjadi batu. Akibatnya, Si Mata Empat dari India mencarinya hingga bertemu di Lampung, tepatnya di Way Mengaku. Di Way Mengaku keduanya saling mengaku nama. Lalu, keduanya beradu ketangguhan.

OBYEK WISATA OGAN KOMERING ULU

OBYEK WISATA GOA PUTRI

OBYEK WISATA GOA PUTRI

Doc By; Potret OKU


Doc by; Potret Oku
 Baturaja dibelah oleh Sungai Ogan dengan tiga jembatan penghubung yang menghubungkan antara bagian Timur dan bagian Barat yaitu jembatan Ogan satu, Ogan dua dan Ogan tiga. Wisata Andalan ini terletak di Desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji Sebelum masuk Goa Putri dipinggir Sungai Ogan terlihat sebuah batu yang biasa disebut penduduk sebagai Batu Putri. Konon batu ini merupakan penjelmaan Putri Balian yang berubah menjadi batu akibat sumpah seorang sakti yaitu Si Pahit Lidah. Nah adanya legenda inilah yang menyebabkan gua ini dinamakan Gua Putri.



By Kismansya Yrf ( desember 2010 )


 tambahan : si pahit lidah mengucap sumpah kepada sang putri karena kesal sang putri tidak menyaut ketika dipanggil berulang kali karena ia sedang sibuk mencuci.
dinamakan goa putri karena goa yang dimaksud berada tidak jauh dari lokasi batu ini yang konon merupakan tempat tinggal sang putri.
menurut cerita ada seekor ikan besar sejenis ikan belut yang melilit batu yang merupakan penjelmaan dari ikat pinggang sang putri.
.

 







Goa Putri adalah tujuan wisata terkemuka di Provinsi Sumatera Selatan, terletak 230 kilometer dari Palembang, atau 35 kilometer dari Baturaja, ibu kota Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU). Gua ini terletak sekitar satu kilometer dari jalan lintas Sumatera yang menghubungkan Baturaja dan Muara Enim.
Gua ini penuh dengan stalaktit dan stalagmit. Stalaktit merupakan kalsium karbonat yang menggantung dan membeku di langit-langit gua dan dapat ditemukan di gua kapur. Stalagmit adalah batuan berbentuk kerucut es yang menghadap ke atas dapat ditemukan di lantai gua. Di Goa Putri, stalaktit dan stalagmit bertemu membentuk pilar yang unik. Gua ini juga memiliki kolam yang airnya berasal dari gua-gua yang airnya berasal dari Sungai Semuhun, yang bermuara di Sungai Ogan.


 Goa Putri, panjangnya lebih kurang 159 meter dan lebarnya antara 8 s/d 20 meter, tinggi maksimal 20 meter. Didalam gua banyak terdapat Stalagtit dan Stalagmit yang berusia ratusan tahun. Ditengah-tengah gua mengalir anak sungai yang bermuara di sungai Ogan. Obyek wisata ini dapat dicapai dari Baturaja dengan jarak tempuh sekitar 35km.
 




Berdampingan dengan Goa Putri terdapat Goa Harimau, tempat ditemukannya situs kerangka manusia yang berumur ± 3.000 tahun yang lalu oleh Pusat Penelitian dan pengembangan Arkeologi Nasional Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Goa ini terletak di desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji yang berjarak ± 500 meter dari Goa Putri. Dari hasil penelitian Tim Arkeologi, di Goa ini ditemukan dua kerangka manusia yang masih utuh dan beberapa kerangka yang tidak utuh lagi, serta serpihan-serpihan bebatuan yang diduga sebagai peralatan yang digunakan mereka. Selain itu pada dinding Goa Harimau terdapat beberapa gambar lukisan yang sampai sekarang masih diteliti.
Peta Kawasan Go Putri ( Support By Google 2012 )

Asal Mula Nama BATURAJA (Baturaje).

Ketika kerajaan palembang menghadapi ancaman musuh, raja(sunan) memanggil orang-orang sakti untuk minta bantuan, menghadaplah Mat Aliudin yang sedang bisulan kaki berjalan terpincang-pincang, melihat hal tersebut diusirlah dia dari istana karena tidak ada tampang sedikitpun kalau dia adalah orang sakti.

Ketika hendak pulang dia pergi ke sungai lematang membentangkan kain putih di permukaan air kemudian langsung duduk bersila diatas kain tersebut dalam keadaan terapung, menyaksikan keganjilan tersebut petugas istana langsung memanggilnya ketika melihat kain yang didudukinya mulai bergerak melawan arus.

Akhirnya desa tempat asal Mat Aliudin tersebut diberi nama Bantu Raja, karena dia berhasil membantu raja dengan kesaktiannya.

Ada juga yang berpendapat kata Bantu Raja didapat ketika ada kapal kerajaan yang sedang melewati sungai lematang yang sedang dangkal karena kemarau tersangkut, kemudian dibantu penduduk desa mendorong kapal tersebut.
Dalam perkembangannya desa Bantu Raja berubah menjadi Baturaja ketika jaman penjajahan Jepang.

Puyang Naneng
Ada cerita unik ketika pertama kali jepang datang ke marga Dangku, ketika di desa Kuripan(bagian hulu baturaja) mereka diberitahu desa Bantu Raja hanya berjalan ke hilir melewati hutan dipesisir sungai lematang, ternyata yang mereka temukan desa Dangku(bagian hilir baturaja), di Dangku mereka diberitahu kalau mereka sudah melewati Bantu Raja untuk itu mereka harus kembali berjalan ke hulu, setelah kembali mereka sampai ke desa Kuripan lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya ada pegawai pesirah yang membantu pasukan jepang, melihat daerah yang seharusnya tempat pemukiman penduduk Bantu Raja menjadi hutan berupa pohon besar-besar dan setiap pohon terlihat gembok yang biasanya dipasang pada pintu rumah.

Penduduk desa Baturaja percaya puyang Naneng selalu datang membantu keturunannya(penduduk desa baturaja) setiap ada bahaya yang mengancam, pasukan jepang tidak bisa menemukan desa baturaja karena pandangan mata mereka melihat rumah penduduk sebagai pohon sehingga mereka hanya merasa melewati hutan saja.

Bahkan dulunya angkong yang melewati desa Baturaja, harus memukul gong kalau tidak akan ada kerusakan pada angkong tersebut, entah sapinya ngamuk atau rodanya patah

Pateh Kepur
Pada sistem pemerintahan marga, kepala desa disebut keriye. walaupun sebenarnya Pateh kepur bukan penduduk asli, Pateh kepur disebut-sebut sebagai keriye pertama yang memerintah di desa baturaja, salah satu tempat bekarang yang banyak ditunggu adalah Lubuk Kepur karena paling lama keringnya dan banyak ikannya, selain itu nama Pateh Kepur sekarang menjadi nama jalan utama yang melewati desa baturaja

Dayang Rindu
Legenda Dayang Rindu sudah menjadi milik rakyat Muara Enim, sedikit yang tahu bahwa Dayang Rindu berasal dari desa Baturaja bahkan orang baturaja sendiri, karena setelah dinikahi Rie Carang pemuda dari desa Banuayu mereka menetap di daerah sekitar batangari Niru, bahkan pabrik kertas PT. Tanjung Enim Lestari sebagian didirikan diatas tanah milik keturunan Dayang Rindu, ceritanya justru berkembang didaerah Rambang Niru(Tanjung Raman, Simpang Niru dan sekitarnya) sebagai tempat tinggalnya setelah pertarungan dua pemuda yang memperebutkan dirinya di tempat asalnya desa Baturaja.
* pesirah = kepala pemerintahan marga

 
Created By HolisgokiLz CORPORATION | CONSULTAN IT dan HACKER INTELEKTUAL | Tehnik Informatika 2009